JAKARTA, Investor.id — Lembaga keuangan nasional kini menghadapi tiga tantangan besa,r yakni sulitnya menilai kelayakan kredit calon debitur, proses tracing data yang lambat dan manual, serta pendekatan monitoring portofolio yang masih bersifat reaktif. Dibutuhkan solusi berbasis data untuk menjawab tantangan tersebut.
Hal itu mencuat dalam diskusi bertajuk “Strategi Data-Driven untuk Mitigasi Risiko & Peningkatan Kinerja Kredit di Lembaga Keuangan Non-Bank” dalam forum tahunan The 7th Indonesia Financial Sector Outlook (IFSO) 2025 yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Credit Bureau Indonesia (CBI).
Direktur Utama CBI Anton K. Adiwibowo menyatakan, menjawab tantangan tersebut, CBI menghadirkan tiga solusi utama berbasis teknologi dan data, yakni income predictor untuk Memprediksi estimasi pendapatan calon debitur, bahkan tanpa slip gaji. Lalu, portfolio alerts, sistem pemantauan portofolio berbasis notifikasi real-time yang dirancang untuk membantu lembaga keuangan mendeteksi potensi risiko secara dini.
Produk ini, kata dia, akan diluncurkan pada akhir Juli 2025 sebagai bagian dari strategi CBI dalam mendukung pengambilan keputusan kredit yang prediktif dan berkelanjutan. Terakhir, dia menyatakan, skip racing yang membantu menjangkau kembali nasabah dormant atau hilang kontak.
“Biro kredit hari ini tidak lagi cukup hanya menjadi pelapor historis. Kami hadir untuk membantu industri sebagai mitra analitik dalam mengambil kputusan yang lebih cepat, tepat, dan berbasis data, mulai dari proses akuisisi kredit hingga monitoring risiko,” ujar Anton, dikutip Jumat (11/7/2025).
Dia menegaskan, forum IFSO 2025 menjadi ajang bagi CBI yang bekerja sama dengan mitra strategis, LPPI, untuk memperluas kolaborasi lintas industri dalam membangun ekosistem kredit yang tangguh, inklusif, dan siap menghadapi dinamika masa depan. Dengan visi sebagai #YourPartnerToGrow, CBI terus memperkuat peranannya sebagai mitra strategis dalam transformasi industri keuangan non-bank yang lebih efisien, modern, dan berorientasi risiko.
Sementara itu, IFSO 2025 yang berlangsung di Auditorium Rachmat Saleh, LPPI Kemang, Jakarta, ini dihadiri oleh pelaku industri pembiayaan, asuransi, hingga perbankan, dan dibuka oleh Direktur Utama LPPI Heru Kristiyana, serta menghadirkan keynote speaker Sumarjono, kepala departemen pengawasan asuransi dan jasa penunjang Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dalam pemaparannya, Sumarjono menekankan pentingnya kesiapan industri dalam merespons enam isu strategis sebagaimana tercantum dalam Strategic Plan & Financial Outlook 2022–2024 dan Roadmap Jasa Keuangan 2023–2024, termasuk percepatan adopsi inovasi digital berbasis teknologi seperti AI, machine learning, big data hingga blockchain.
Direktur Utama LPPI Heru Kristiyana menegaskan pentingnya ketahanan industri di tengah ketidakpastian global. Di era ketidakpastian saat ini, menjaga pertumbuhan yang kuat dan berkelanjutan bukan hanya soal ekspansi, tetapi juga soal memahami risiko lebih dalam dan mengambil keputusan berbasis data.“Inilah waktu yang tepat bagi industri untuk membangun ketahanan melalui pendekatan yang lebih terukur dan kolaboratif,” ujar dia.
Bagaimana kami dapat membantu Anda?
Hubungi tim Business Development kami, untuk membantu Anda menemukan solusi yang tepat sesuai dengan kebutuhan bisnis Anda.