20 Apr 2024

Indonesia dan Korea Dorong Sektor Jasa Keuangan Berkelanjutan, Analisis Kredit Jadi Fokus

Bagikan

Jakarta, Beritasatu.com – Indonesia dan Korea Selatan mendorong sektor jasa keuangan yang meliputi pasar modal, asuransi, hingga penjaminan kedua negara lebih berkelanjutan. Salah satu fokusnya partisipasi Credit Bureau Indonesia (CBI) yang mencakup analisis profil risiko kredit dalam mendukung penguatan infrastruktur keuangan di Indonesia.

“Kami mengapresiasi kerja sama dengan FSC (Financial Services Commission) Korea, CIFC (Council on International Financial Cooperation), serta pelaku industri jasa keuangan Indonesia dan Korea yang bertukar pengetahuan serta best practice pengembangan keuangan berkelanjutan di kedua negara,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, dalam Indonesia-Korea Financial Cooperation Forum ke-2 bertema Forging the Future of Finance: Strengthening Collaboration and Sustainable Finance in Korea and Indonesia di Jakarta, dikutip Antara, Jumat (8/9/2023).

Mahendra menyampaikan bahwa penguatan jasa keuangan berkelanjutan berperan penting dalam menghadapi dampak perubahan iklim global. Untuk itu, diperlukan kolaborasi tidak hanya dari regulator, melainkan pelaku sektor jasa keuangan di tingkat domestik maupun internasional. Tujuannya, pengembangan keuangan berkelanjutan terukur dan terarah.

“Kita harus memahami isu-isu pengembangan keuangan berkelanjutan dalam perspektif lebih luas, ini sesuatu yang harus terus kita sempurnakan dan percepat serta sesuaikan dengan prinsip-prinsip global dan internasional,” jelas Mahendra.

Mahendra juga mengungkapkan, OJK bersama industri jasa keuangan Indonesia berkomitmen belajar dan berbagi perkembangan inisiatif keuangan berkelanjutan.

Salah satu sorotan dalam forum ini adalah partisipasi Credit Bureau Indonesia (CBI) dalam memperkuat infrastruktur keuangan di Indonesia. Direktur Bisnis & Layanan, Anton K Adiwibowo Credit Bureau Indonesia (CBI) mengatakan Indonesia-Korea Financial Forum ke-2 memberikan platform berharga untuk berdiskusi soal tantangan dan peluang pengembangan infrastruktur keuangan di Indonesia.

“Pengembangan LPIP (Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan) ke arah biro kredit modern yang disertai peningkatan pengolahan data yang didukung analisis profil risiko akurat adalah unsur penting dalam menciptakan solusi oleh lembaga jasa keuangan dalam mendukung inklusi keuangan berkelanjutan,” kata dia.

Acara ini dihadiri sekitar 130 partisipan dari regulator dan industri jasa keuangan Indonesia maupun Korea. Tema besar yang dibahas, yakni keuangan berkelanjutan dalam lanskap keuangan Indonesia dan Korea serta kolaborasi membentuk masa depan sektor jasa keuangan Indonesia dan Korea.

Bagikan

Bagaimana kami dapat membantu Anda?

Hubungi tim Business Development kami, untuk membantu Anda menemukan solusi yang tepat sesuai dengan kebutuhan bisnis Anda.